JAJANAN tidak aman anak sekolah semakin disorot banyak kalangan. Ketika Anda peduli kesehatan si kecil, mengapa tidak membuka kantin sehat? Menurut Data Badan Pengawas Obat Masalah (BPOM) pada 2010, sekolah menempati urutan kedua (26,9 persen) sebaran terbanyak keracunan pangan di Indonesia, setelah tempat tinggal (56,52 persen). Faktanya sebagian jajanan yang beredar di sekolah, baik di perkotaan dan pedesaan, banyak mengandung bahan tambahan pangan (BTP) yang melebihi ambang batas, beberapa mengandung bahan kimia yang dilarang termasuk residu pestisida, higienitas makanan juga sangat rendah karena dijual di tempat terbuka dan tanpa pelindung memadai. Bila diklasifikasikan, kasus keracunan makanan di sekolah di antaranya disebabkan oleh: 1. Cemaran mikroba karena rendahnya kondisi higienitas dan sanitasi. 2. Cemaran kimia karena kondisi lingkungan yang tercemar limbah industri dan limbah bahan kimia pertanian. 3. Penyalahgunaan bahan berbahaya yang dilarang untuk pangan (formalin, rhodamin B, boraks, methanil yellow). 4. Cemaran fisik, berupa potongan kayu, pasir, batu, pecahan kaca, isi staples, dan sebagainya. Bila menunggu tindakan nyata banyak pihak tak jua datang, orangtua diharapkan memiliki pemahaman soal kebutuhan gizi anak. Salah satunya soal jajanan sehat untuk anak. “Masalah gizi di Indonesia tidak hanya karena enggak punya uang, tapi juga kurangnya pengetahuan. Anak perlu alternatif makanan sehat. Apalagi sekarang, trennya anak sekolah semakin mudah mengenal makanan tidak sehat,” kata Arif Mujahidin selaku Corporate Communications Manager PT Sari Husada kepada okezone usai diskusi “Gizi Lintas Generasi; Tantangan Gizi Anak Dulu, Kini dan Nanti” di Jakarta, belum lama ini. Ketersediaan alternatif yang bisa ditawarkan kepada anak salah satunya kantin sehat. Moms bisa memulai ide ini dengan menghimpun para orangtua yang punya pemikiran dan niat yang sama. “Memang perlu modal, tapi yang utama menghimpun teman seide bahwa daripada warung menjual jajanan tidak sehat, lebih baik kita saja yang mengelola. Kemudian, tanamkan cara berpikir bahwa kita menyediakan makanan sehat untuk mengantarkan anak kita cerdas dan jadi pemimpin. Jadi, ada nilai moralnya,” sahut Ahmad Sulaeman PhD selaku Guru Besar Keamanan Pangan dan Gizi IPB pada kesempatan yang sama. Prof Ahmad mengatakan, BPOM menyediakan sarana bila Moms ingin membuka kantin sehat, yakni lewat Bagian Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan. “Direktur Surveilan dan Penyuluhan BPOM Halim Nababan, dia akan kasih CD tutorial yang bisa digandakan. Anda tinggal menyiapkan menunya, pengelola warung dilatih masalah personal hygiene, bahaya pangan tidak aman, cara cuci tangan yang baik, dan sebagainya,” paparnya. Namun, tak lupa ia mengingatkan bahwa pedagang tradisional (penjual makanan tidak sehat) sebaiknya turut diajak. Tujuannya, tidak menciptakan kesenjangan sehingga lama-kelamaan akan timbul kesadaran hidup bersih dari mereka. “Jangan ditinggalkan, tapi diajak. Pernah kasus di Surabaya, anak-anak disuruh makan sehat, tapi penjual (tradisionalnya) enggak diajak. Sekolahnya lalu dilempari. Kalau mereka masih mau berjualan, kasih syarat dengan pemaksaan bila perlu,” sarannya.